6 Langkah Mengatur Inventory Agar Bisnis Berjalan Lancar

Ketika menjalankan suatu bisnis, khususnya manufaktur atau perdagangan, inventory merupakan aset penting yang pengelolaannya patut diperhatikan.

Inventory atau inventaris adalah barang maupun produk suatu perusahaan yang akan dijual untuk mendapatkan keuntungan.

Pengelolaan yang tepat adalah hal wajib agar kamu dapat mengetahui jumlah persediaan yang lengkap.

Dengan begitu, kamu bisa menggunakannya secara maksimal tanpa ada barang yang terbuang.

Sebelum mulai mengelolanya, ada baiknya kamu pelajari dulu apa saja yang termasuk barang inventory—karena tidak melulu berupa produk akhir yang sudah diproduksi.

Berikut beberapa tipenya.


Hal-hal yang Termasuk Inventory

1. Bahan baku

Bahan baku merupakan barang yang diproses untuk menjadi produk akhir.

Di perusahaan sepatu, misalnya, bahan bakunya adalah bahan dari kanvas atau kulit, lem, hingga sol sepatu.

Biasanya bahan baku ini ada di industri manufaktur, sedangkan di industri perdagangan dan jasa tidak memilikinya karena tidak ada proses pembuatan.


2. Pekerjaan sedang dalam proses

Bahan mentah yang sudah dibentuk namun belum disetujui sebagai barang jadi akan masuk kategori pekerjaan sedang dalam proses.

Untuk perusahaan pembuat kue, sebelum dikirim untuk pengemasan, kue yang sudah dipanggang akan diperiksa kualitasnya.

Tahap ini disebut sebagai pekerjaan sedang dalam proses—sudah jadi tapi belum dikirim untuk dijual.

Baca juga: Mau Memulai Bisnis? Ini Cara Mendapatkan Modal Usaha


3. Barang jadi

Sesuai namanya, barang jadi adalah barang akhir yang sudah siap untuk dijual.

Artinya, barang ini sudah melewati tahapan produksi dan pengecekan kualitas.

Bagi perusahaan perdagangan yang tidak memproduksi suatu barang—melainkan mengambilnya dari pemasok—maka barang jadi merupakan inventory utama.

Bagaimana dengan perusahaan jasa, apa saja inventory-nya?

Biasanya inventory dari perusahaan tipe ini tidak berwujud.

Contoh, salah satu inventory dari perusahaan jasa pembuatan video adalah ilustrasi yang akan disertakan dalam suatu video.

Bagi penyedia jasa workshop atau seminar, maka inventory-nya adalah bahan-bahan yang akan dipresentasikan.

Lalu, bagaimana cara mengelola inventory sehingga segala sesuatunya berjalan lancar dan keuntungan perusahaan pun meningkat?

Cara Mengelola Inventory

1. Catat informasi produk

Perusahaan kecil maupun besar wajib mencatat informasi produk yang termasuk dalam inventory.

Data barcode, SKU (stock keeping unit yang diperlukan untuk melakukan pengelolaan gedung), hingga nama pemasok adalah beberapa di antaranya.

Kamu pun disarankan untuk melacak barang-barang ini secara rutin untuk melihat apakah ada momen tertentu yang mengakibatkan perubahan biaya atau jumlah stok.


2. Beri prioritas barang

Untuk lebih mempermudah kebutuhan perusahaan terhadap suatu produk, kategorikan inventory ke dalam kelompok prioritas.

Kamu pun jadi tahu beberapa hal terkait barang, termasuk barang tipe apa yang harus dipesan lebih dulu maupun tipe barang yang bergerak lambat.

Beberapa perusahaan memisahkan inventaris menjadi grup A, B, dan C.

Barang dalam grup A biasanya merupakan barang dengan harga lebih tinggi namun lebih sedikit dibutuhkan.

Sedangkan barang dalam kategori C adalah barang berbiaya rendah yang dapat dikeluarkan atau dijual dengan cepat.

Barang dalam kategori grup B berada di antara kategori A dan C, yaitu barang dengan harga sedang dan terjual lebih lambat daripada kategori C tetapi lebih cepat dibanding kategori A.

Baca juga: 6 Mindset untuk Menjadi Pengusaha Sukses


3. Rutin cek pemasok

Pemasok sangat menentukan kelancaran dalam berbisnis karena mereka penyedia inventory suatu perusahaan.

Jadi sebaiknya, nih, analisa performa pemasok seara rutin.

Jika ada pemasok yang sering terlambat mengirim barang, saatnya kamu bertindak.

Berdiskusi dengan mereka untuk mencari tahu masalah yang dihadapi adalah langkah awal.

Jika masalah ini berlanjut, maka kamu perlu siap mencari pemasok lain agar tidak ada lagi masalah kehabisan inventory.


4. Perhitungan rutin

Sebaiknya lakukan stock opname alias penghitungan yang komprehensif secara rutin.

Kamu bisa melakukannya sekali setahun, sekali sebulan, atau bahkan mingguan untuk barang yang permintaannya tinggi.

Tujuan dari perhitungan ini adalah untuk memastikan jumlah barang yang dimiliki sesuai dengan pemesanan atau produksi.

Baca juga: Rekomendasi Buku Bisnis Untuk Memulai Usaha


5. Proses standar penerimaan stok

Buatlah peraturan atau standar umum dalam menerima stok.

Dengan begitu, siapa pun karyawan yang bertugas menerima dan memproses stok masuk akan melakukannya dengan cara yang sama.

Ini mencakup proses verifikasi, penerimaan dan pembongkaran barang, hingga perhitungannya.

Mengapa perlu adanya standar penerimaan stok?

Supaya tidak ada masalah atau kesalahan di masa depan.

Tanpa adanya standar proses penerimaan barang, bisa-bisa ada barang terselip alias lupa dimasukkan ke dalam stok.


6. Lacak penjualan

Sebagai pelaku usaha, tentunya kamu tidak hanya perlu memantau barang yang masuk, tapi juga keluar.

Lacaklah penjualan agar kamu memahami produk apa saja yang terjual, berapa jumlahnya, dan produk apa yang masuk kategori laris sehingga perlu diperbarui tiap beberapa waktu tertentu.

Intinya, sih, dengan melacak penjualan, kamu jadi dapat memahami tren produk perusahaan kamu.

Termasuk, tipe barang yang terjual cepat maupun lambat, hari tertentu ketika barang laris dijual, hingga tipe perusahaan atau individual yang membelinya.

Hal ini tidak hanya penting untuk mengendalikan inventory kamu, tapi juga untuk merancang strategi marketing ke depannya.

Ingatlah kalau pengelolaan inventory merupakan salah satu tahap penting untuk kelancaran bisnis perusahaan.

Tanpa pengelolaan yang baik, stok barang dapat terganggu yang akan berimbas pada penjualan.

Jangan ragu menerapkan tips mengelola inventory di atas agar usaha kamu berjalan lancar.