Lakukan 7 Langkah Ini untuk Memulai Bisnis Fashion

Lakukan 7 Langkah Ini untuk Memulai Bisnis Fashion – Dari waktu ke waktu, tren mode selalu berkembang dan tidak sedikit orang yang beradaptasi mengikuti tren tersebut.

Bahkan, kadang tren tersebut berulang sehingga digandrungi oleh generasi beberapa decade setelahnya.

Di tahun 2020, misalnya, baggy jeans yang populer di tahun 2000an kembali diminati.

Ini menunjukkan bahwa dunia fashion tidak ada matinya—walau tidak tertutup kemungkinan tren yang sama terjadi di era berbeda.

Tren fashion yang selalu berevolusi ini menjanjikan peluang bisnis, nih.

Bagi kamu yang hobi mengikuti tren fashion dan berminat memulai bisnis fashion sendiri, kamu bisa mencoba terjun di bidang ini.

Namun mengingat banyaknya pesaing, pastikan kamu melakukan 7 langkah berikut untuk meraih kesuksesan sebelum memulai bisnis fashion.


1. Tentukan target

Hal pertama yang perlu kamu pastikan adalah target konsumen.

Apakah kamu menargetkan anak kuliah dan karyawan kantoran level awal?

Atau kamu justru menyasar pangsa anak-anak?

Alternatif lain, kamu mungkin saja mau menguasai pasar dari kalangan atas yang hobi mengoleksi pakaian mewah.

Dengan menentukan target sejak awal, kamu pun akan lebih mudah memilih jenis produk fashion yang akan dijual sekaligus menghitung bujet awal.


2. Cek tren di kalangan target

Fashion selalu identik dengan tren.

Oleh karena itu, sebelum memulai bisnis fashion, pastikan kamu tahu tren terbaru yang diminati target kamu.

Jika celana kulot sedang populer, misalnya, maka kamu pun bisa mencari supplier untuk memperoleh dan menjualnya.

Atau jika kamu memang jago mendesain, maka kamu pun dapat membuat baju brand kamu dan memproduksinya sendiri.

Jual produk yang sudah pasti disukai target agar kamu tidak mengalami kerugian.


3. Bisa memulai dari dropshipper atau reseller

Bagi kamu yang memiliki modal minim, kamu bisa memulai bisnis dengan menjadi dropshipper.

Sebagai dropshipper, kamu memasarkan produk suatu brand atau toko kepada jejaring kamu.

Jika ada yang berminat, maka toko tersebut akan mengirimkan langsung produk yang dibeli kepada pelanggan atas nama kamu.

Kamu pun tidak perlu modal awal jika terjun sebagai dropshipper.

Hal ini berbeda dengan reseller yang mengeluarkan modal terlebih dulu karena harus stok barang sebelum menjualnya kembali kepada orang lain.

Menjadi reseller berpotensi mengalami kerugian.

Misalnya, kamu stok 50 baju namun hanya berhasil menjual 40 di antaranya.

Keuntungan yang kamu raih pun berkurang akibat ‘kerugian’ 10 baju yang tidak terjual.

Namun, keuntungan menjadi reseller adalah kamu bisa menjual produk secara online maupun offline—kan, barang sudah di tangan.

Beda dengan dropshipper, yang sistem pemasaran dan penjualannya lebih berlaku secara online.

Jadi bila kamu tertarik menjual produk kepada orang-orang terdekat secara tatap muka, reseller bisa menjadi pilihan.

Baca juga: 5 Bisnis Lokal yang Menjanjikan di Tahun 2021


4. Pastikan stok ada

Jika memutuskan menjual produk dari brand tertentu alias bukan brand sendiri, maka pastikan kamu mendapatkan supplier terpercaya.

Jangan sampai, nih, stok kosong ketika banyak konsumen yang memesan.

Hal ini akan mengurangi kepercayaan konsumen terhadap brand dan produk kamu.

Pastikan kamu memiliki perjanjian hitam di atas putih dengan supplier untuk menghindari masalah di kemudian hari.


5. Tentukan cara pemasaran

Saat ini segala sesuatunya memang serba digital, termasuk untuk berjualan.

Meski begitu, bukan berarti kamu tidak dapat melakukannya secara offline.

Hanya saja, berjualan secara offline artinya akan mengharuskan kamu untuk lebih sering bertatap muka dengan konsumen.

Akibatnya, kamu harus mengalokasikan sebagian waktu untuk pertemuan dengan mereka.

Berjualan secara offline juga berarti kamu siap menyediakan ruang untuk memajang barang-barang yang dijual.

Jika punya spot di rumah untuk dijadikan toko, tentulah ini akan menghemat biaya sewa.

Namun di sisi lain, lokasi penjualan mungkin saja kurang strategis karena di area perumahan—kecuali kamu menargetkan tetangga sekitar.

Jadi, hal ini harus kamu pertimbangkan jika ingin memasarkannya secara offline.

Khawatir kekurangan dana untuk pemasaran produk?

Tenang, kamu bisa meminjam modal usaha melalui KoinBisnis dari KoinWorks yang menawarkan jumlah pinjaman antara Rp5 juta hingga Rp2 miliar.

Bunganya flat, lho, mulai dari 0.75% per bulan.

Jangan ragu untuk mengajukan pinjaman di sini!

Sebaliknya, memasarkan secara online memang lebih menghemat biaya.

Kamu tidak perlu menyewa toko—bahkan tidak perlu stok barang jika memutuskan jadi dropshipper.

Sejumlah marketplace bisa kamu jadikan lapak untuk berjualan dan memasarkan produk kamu kepada orang-orang dari berbagai daerah.

Jika mau keluar sedikit modal, kamu juga bisa membangun website sendiri sehingga orang-orang memiliki alternatif tempat untuk belanja selain di marketplace.

Media sosial tentulah bisa menjadi nilai plus juga untuk memasarkan produk kamu—apalagi pengguna Instagram, Facebook, dan Twitter di Indonesia cukuplah besar.

Selain itu, kamu juga dapat memasarkan produk kamu dengan mengikuti program #LokalSupportLokal dari Koinworks.

Melalui program ini, usaha kamu akan dipromosikan di microsite dan juga media sosial resmi KoinWorks secara gratis!

Yuk, kembangkan bisnis kamu di www.lokalsupportlokal.id!


6. Etalase menarik

Baik toko offline maupun online, pastikan kamu menata produk kamu secara menarik.

Dengan begitu, konsumen akan tertarik untuk mengeksplorasi produk – produk yang kamu miliki.

Kategorikan produk berdasarkan jenisnya sehingga mereka pun mudah mencari—misalnya kemeja, outer, sepatu, dan aksesori.

Ingat, visual memegang peranan penting untuk menarik minat seseorang.

Baca juga: 7 Tips Sukses Bisnis Isi Ulang Air Minum Galon


7. Rajin promosi

Sebagai toko atau brand baru, sejumlah promosi dapat kamu lakukan untuk menarik pelanggan.

Misalnya, berikan potongan harga untuk pembelian produk di atas Rp100.000.

Bisa juga, tuh, memberikan promo buy 1 get 1 untuk produk tertentu.

Saat melakukan promosi ini, pastikan kamu tidak mengalami kerugian.

Misalnya, biasanya kamu memperoleh keuntungan 30% dari suatu produk.

Dengan adanya promosi berupa diskon untuk produk tertentu, maka kamu pun tetap mendapatkan keuntungan.

Hanya saja, porsinya mungkin lebih kecil yaitu hanya 5% atau 10%.

Jumlah ini memang erkesan sedikit, tapi kamu tetap bisa mendapat keuntungan yang lebih besar melalui produk lain.

Sudah siap menjalankan usaha fashion kamu?