Cara Menghitung Biaya Penyusutan Beserta Contohnya

Cara Menghitung Biaya Penyusutan – Setiap aset yang dimiliki oleh pihak perorangan maupun organisasi bisnis tentu memiliki manfaat dan nilai kegunaannya masing-masing. Lama-kelamaan, aset tersebut akan mengalami penyusutan atau penurunan nilai selama jangka waktu tertentu.

Kejadian di atas dapat disebut dengan istilah depresiasi atau biaya penyusutan. Apa itu biaya penyusutan? Dan bagaimana pula cara menghitung biaya penyusutan beserta contoh-contohnya? Simak artikel ini sampai tuntas ya!


Apa Itu Biaya Penyusutan?

Penyusutan atau depresiasi adalah salah satu istilah penting dalam pencatatan akuntansi dan sering kita jumpai dalam dunia bisnis. Kemudian, biaya penyusutan merupakan biaya yang timbul karena adanya penggunaan aset tetap atau aktiva tetap. 

Dengan kata lain, biaya penyusutan adalah prosedur perhitungan aset tetap yang mengalami penurunan nilai, manfaat, maupun kualitas.

Biaya depresiasi memiliki hubungan yang erat dengan perhitungan masa umur atau masa pakai suatu aset. Jadi, semakin lama usia pakai benda nya atau semakin sering aset tersebut digunakan, maka akan semakin menurun pula valuasinya.

Biasanya, setiap organisasi bisnis yang aktif akan melakukan prosedur cara menghitung biaya penyusutan untuk mengetahui seberapa besar biaya depresiasi yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.

Biaya penyusutan ini nantinya akan dialokasi sebagai sebuah anggaran cadangan yang dipakai untuk membeli aset baru. Jadi, aset baru tersebut akan menggantikan peran aset lama yang sudah mengalami penurunan nilai, performa, atau telah mencapai batas masa pakai.

Baca juga: Contoh Surat Perjanjian Hutang Piutang dan Cara Membuat yang Benar


Faktor yang Mempengaruhi Cara Menghitung Biaya Penyusutan

Biaya penyusutan hanya bisa kamu alokasikan untuk jenis aset tetap yang berwujud. Dengan kata lain, penetapan biaya depresiasi tidak bisa ditujukan untuk jenis aset-aset yang tak memiliki wujud fisik (lisensi, merek dagang, dll).

Adapun beberapa contoh aset tetap yang dapat mengalami penyusutan nilai antara lain :

  • Mesin operasional
  • Peralatan kantor
  • Kendaraan
  • Gedung

Selama ada biaya depresiasi, akun aktiva tetap harus selalu kamu catat dalam jurnal penyesuaian pada setiap akhir periode (satu tahun).

Nantinya, besaran biaya penyusutan dari suatu aset akan  terakumulasi dan membawa pengaruh pada jumlah laba bersih usaha. 

Hal ini karena biaya depresiasi akan dicatat sebagai biaya pengeluaran dalam laporan keuangan perusahaan. Adapun beberapa faktor dasar yang mempengaruhi cara menghitung biaya penyusutan suatu aset antara lain:

1. Harga Perolehan (Acquisition Cost)

Setiap pembelian atau perolehan aset, pihak perusahaan tentu akan mengeluarkan sejumlah biaya untuk mendapatkan benda tersebut. Biaya inilah yang disebut sebagai harga perolehan.

Harga perolehan menjadi salah satu faktor dalam penentuan besaran biaya penyusutan yang perlu dialokasikan pada setiap periodenya. 

Adapun, cara menghitung harga perolehan aset tidak hanya dilihat dari harga pembeliannya saja. Kamu juga perlu menambahkan jenis biaya yang lain seperti biaya distribusi (pengiriman), biaya instalasi, pajak, dan lain sebagainya.

2. Umur Ekonomis Aset (Estimated Economic Life Time of Asset)

Faktor dasar berikutnya yang mempengaruhi cara menghitung biaya penyusutan adalah umur ekonomis aset. Umur ekonomis adalah perkiraan yang digunakan untuk melihat masa kontribusi aset sebelum mengalami aus / usang (nilai kegunaannya mencapai nol).

Secara sederhana, umur ekonomis aset adalah perkiraan masa pakai atau masa manfaat dari suatu aktiva. Umur ekonomis aset bisa berbeda-beda dan tergantung jenis bendanya. Ada yang hanya berumur beberapa bulan dan ada pula yang mencapai umur puluhan tahun.

Meski dinamai umur ekonomis, faktor ini tidak hanya memperkirakan masa manfaat aset dari sisi waktu (usia) saja, melainkan juga mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti jam kerja dan produktivitasnya.

Selain itu, penentuan umur ekonomis juga di tinjau dari jenis aspek yang lain seperti aspek fisik maupun fungsional aset. Dengan kata lain, bisa saja aset yang mempunyai kondisi fisik baik ternyata tidak mampu menjalankan fungsinya secara optimal.

Misalnya, performa suatu mesin pabrik sudah tidak lagi mendukung sistem kerja perusahaan yang baru, meskipun secara tampilan masih terlihat bagus.

3. Nilai Residu (Salvage Value)

Faktor lain yang mempengaruhi cara menghitung biaya penyusutan selanjutnya adalah nilai residu atau salvage value. Nilai residu adalah nilai sisa dari suatu aset yang sudah tidak lagi digunakan.

Salvage value ini bisa kamu dapatkan dengan cara mengurangkan umur ekonomis aktiva dengan nominal penyusutannya setiap periode tertentu. Nilai ini hanya bisa kamu peroleh jika aset –yang sudah mencapai umur ekonomis nol– tersebut di jual. Jika tidak demikian, maka aset tersebut tidak memiliki nilai residu.

Dengan kata lain, jika suatu aset tak lagi mampu memberikan manfaat, itu artinya aktiva tersebut sudah tidak memiliki nilai sisa atau nilai residu. Selama masih memiliki benefit, aset tersebut akan tetap memiliki nilai residu sebesar nilai manfaatnya.

Baca juga: Surat Izin Tempat Usaha: Pengertian, Contoh dan Cara Membuatnya


Tujuan dari Perhitungan Biaya Penyusutan

Setelah memahami tentang apa itu biaya penyusutan beserta faktor dasarnya. Kini saatnya untuk memahami tujuan atau peranan penting perhitungan biaya depresiasi bagi bisnis, antara lain:

  • Sebagai data evaluasi keuntungan bisnis
  • Dapat meminimalkan kerugian bisnis dengan cara pengurangan aset
  • Mengetahui nilai residu
  • Mengetahui estimasi ‘masa produktif’ aset

Baca juga: Inspirasi Ide Bisnis Roti Kekinian bagi Pemula yang Ingin Mulai Usaha


Metode atau Cara Menghitung Biaya Penyusutan

Dalam akuntansi, biaya penyusutan tercatat sebagai pengurangan (penurunan) biaya aktiva tetap yang berlangsung secara sistematis. Pencatatan tersebut akan terus dilakukan setiap periode tertentu hingga nilai dari aset tersebut mencapai nol (tidak memiliki nilai ekonomi sama sekali).

Lantas, bagaimana cara menghitung biaya penyusutan suatu aktiva? Berikut adalah metode penghitungan biaya depresiasi yang sering digunakan untuk menunjang keberlangsungan bisnis.

1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

Cara perhitungan biaya depresiasi dengan metode garis lurus adalah yang paling sering digunakan oleh para akuntan. Metode ini menggunakan konsep penghitungan berdasarkan waktu dan bukan dari fungsional asetnya.

Secara sederhana, semakin lama suatu aset digunakan maka nilai aktiva tersebut juga akan mengalami pengurangan. Meskipun, aset tersebut masih mampu berfungsi secara optimal dan menunjukkan produktivitas yang signifikan.

Agar semakin jelas, silakan kamu pahami rumus perhitungan depresiasi dengan metode garis lurus berikut ini,

Penyusutan =  harga perolehan – nilai residuumur ekonomis aset

Untuk menemukan nilai depresiasi barang, kamu bisa mengurangkan harga akuisisi aset dengan nilai sisa aset, kemudian dibagi dengan masa manfaat aktiva tetap atau umur ekonomis aset.

Metode ini sering disukai oleh para akuntan karena cara perhitungan penyusutannya terbilang sederhana. Dikarenakan metode ini lebih menitikberatkan pada aspek waktu penggunaan, maka nilai depresiasinya akan tetap sama dalam setiap periodenya.

Metode penyusutan garis lurus lebih cocok dipakai untuk menghitung nilai depresiasi aktiva tetap berjenis bangunan dan furnitur. Hal ini karena kedua aset tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap hasil produksi suatu bisnis.

2. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of Years Digit Method)

Cara menghitung biaya penyusutan yang selanjutnya adalah dengan menerapkan metode sum of years digit

Metode ini mengandalkan perhitungan depresiasi aset sesuai jumlah angka tahun  dari umur ekonomisnya. Dengan kata lain, semakin lama penggunaannya –yang berarti semakin banyak jumlah angka tahunnya– maka semakin besar pula akumulasi nilai penyusutan dari suatu aset.

Adapun rumus dari penghitungan biaya depresiasi dengan metode penyusutan jumlah angka tahun yakni, 

Penyusutan =  sisa umur penggunaan asetjumlah angka tahun × (harga perolehan – nilai residu)

Cara menemukan nilai depresiasi suatu aset, kamu bisa membagi sisa umur penggunaan barang dengan jumlah angka tahun pemakaian. Jika aset tersebut memiliki umur ekonomis selama 5 tahun, maka jumlah angka tahunnya adalah, 

1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15

Kemudian hasil pembagian tersebut dikalikan dengan hasil pengurangan antara harga akuisisi aset dengan nilai residunya.

3. Metode Saldo Menurun Ganda (Double Declining Balance Method)

Cara menghitung biaya penyusutan yang ketiga adalah dengan menerapkan metode saldo menurun. 

Konsep dari metode perhitungan ini adalah masa awal pemakaian aset merupakan masa-masa yang paling maksimal. Hal ini karena seiring bertambahnya tahun, manfaat dan performa aset tersebut akan semakin menyusut. 

Jika dibandingkan dengan metode garis lurus, metode perhitungan penyusutan ini dinilai lebih teliti dan hati-hati dalam menetapkan estimasi. Hal ini karena nominal penyusutan dalam metode saldo menurun ganda sengaja dinaikkan 2 kali lipat.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah rumus perhitungan penyusutan dengan metode saldo menurun ganda,

Penyusutan = 2  100%umur ekonomis aset  × harga buku aktiva tetap

Caranya, kamu perlu membagikan 2 x 100% dengan umur ekonomis aset, kemudian hasil dari pembagian tersebut dikalikan dengan harga buku aktiva tetap. 

Perhitungan penyusutan dengan metode saldo menurun ganda menggunakan nilai buku aktiva tetap sebagai patokannya. Dan juga, buku ini akan terus mengalami penurunan nilai setiap periodenya.

Untuk mendapatkan nilai buku aktiva tetap, kamu perlu memiliki data tentang harga perolehan aset. Dengan begitu, cara menghitung biaya penyusutan secara lebih mudahnya yakni,

Penyusutan (tahun pertama) = (harga perolehan / umur ekonomis) × 2
Penyusutan (tahun kedua) = ((harga perolehan – akumulasi penyusutan satu tahun terakhir) / umur ekonomis) × 2
Dst

 

4. Metode Hasil Produksi (Productive Output Method)

Cara menghitung biaya penyusutan yang keempat adalah dengan metode hasil produksi. Berbeda dengan metode garis lurus yang menitikberatkan pada aspek waktu, maka metode hasil produksi lebih terfokus pada aspek kegunaannya.

Konsep dari metode perhitungan ini adalah, beban penyusutan aset akan ditentukan berdasarkan jumlah hasil produksi dalam periode tertentu.

Dengan begitu, beban depresiasi aset dalam tiap periode akan memiliki nilai yang terus berubah-ubah sesuai dengan fluktuasi hasil produksinya. 

Untuk mempermudah penjelasan di atas, silakan simak rumus perhitungan penyusutan dengan metode hasil produksi berikut ini,

Biaya penyusutan =  jumlah produksitotal produksi usia ekonomis × (harga perolehan – nilai residu)

Untuk menemukan nilai penyusutan aktiva tetap, kamu dapat membagikan jumlah produksi dalam periode tertentu (misal satu tahun) dengan jumlah perkiraan total produksi selama aset mampu beroperasi sesuai umur ekonomisnya.

Kemudian nilai pembagian tersebut dikalikan dengan selisih antara harga perolehan aset dan nilai residunya.

Baca juga: Peluang Usaha Franchise Alfamart: Tips, Syarat dan Cara Memulai


Contoh Cara Menghitung Biaya Penyusutan

Setelah mengetahui beberapa metode perhitungan penyusutan di atas, apakah kamu masih bingung dengan pengaplikasian rumusnya? Jika belum, kamu bisa melihat contoh-contoh pencarian nilai penyusutan aset sebagai berikut :

1. Contoh Penyusutan dengan Metode Garis Lurus

Sebuah perusahaan membeli mesin pabrik dengan harga sebesar Rp50 juta. Mesin tersebut diperkirakan mampu beroperasi selama 5 tahun dengan perkiraan nilai residu sebesar Rp10 juta. Berapa nilai penyusutan mesin pabrik untuk setiap tahunnya?

Diketahui :

  • Harga perolehan : Rp50.000.000
  • Nilai residu : Rp10.000.000
  • Umur ekonomis aset : 5 tahun

Biaya penyusutan = (harga perolehan – nilai residu) / umur ekonomis aset

= (50.000.000 – 10.000.000) / 5

= 8.000.000

Artinya biaya penyusutan mesin pabrik tersebut adalah sebesar Rp8 juta per tahun.

2. Contoh Penyusutan dengan Metode Jumlah Angka Tahun

Perusahaan A telah melakukan pembelian mesin produksi seharga Rp50 juta dengan nilai sisa sebesar Rp5 juta. Pemilik perusahaan A memperkirakan taksiran umur ekonomis mesin selama 5 tahun. Bagaimana cara menghitung biaya penyusutan nya?

Diketahui:

  • Harga perolehan : Rp50.000.000
  • Nilai residu : Rp5.000.000
  • Jumlah angka tahun : 15 (didapatkan dari penjumlahan angka 1+2+3+4+5)
  • Dasar penyusutan 🡪 harga perolehan – nilai residu = Rp45.000.000

Jawaban :

Penyusutan = (sisa umur ekonomis / jumlah angka tahun) × (harga perolehan – nilai residu

= (Sisa umur ekonomis / 15) × Dasar penyusutan

Tahun ke- Sisa umur ekonomis / 15 Dasar penyusutan (Rp) Biaya penyusutan (Rp)
1 5/15 45.000.000 15.000.000
2 4/15 45.000.000 27.000.000
3 3/15 45.000.000 9.000.000
4 2/15 45.000.000 6.000.000
5 1/15 45.000.000 3.000.000

 

Jadi, biaya penyusutan mesin produksi tersebut yakni

  • Rp15.000.000 (tahun pertama)
  • Rp27.000.000 (tahun kedua)
  • Rp9.000.000 (tahun ketiga)
  • Rp6.000.000 (tahun keempat)
  • Rp3.000.000 (tahun kelima)

3. Contoh Penyusutan dengan Metode Saldo Menurun Ganda

Perusahaan A telah melakukan pembelian mesin produksi seharga Rp50 juta dan memperkirakan masa operasional mesin selama 5 tahun. Bagaimana cara menghitung biaya penyusutan nya?

Diketahui:

  • Harga perolehan : Rp50.000.000
  • Umur ekonomis : 5 tahun

Jawaban :

Penyusutan = ((harga perolehan – akumulasi penyusutan tahun sebelumnya) / umur ekonomis) × 2

= ((50.000.000 – 0) / 5) × 2

= 20.000.000 (penyusutan tahun pertama)

Tahun ke- Akumulasi penyusutan tahun sebelumnya (Rp) Biaya penyusutan (Rp)
1 0 20.000.000
2 0 + 20.000.000 = 20.000.000 12.000.000
3 0 + 20.000.000 + 12.000.000 = 32.000.000 7.200.000
4 0 + 20.000.000 + 12.000.000 + 7.200.000 = 39.200.000 4.320.000
5 0 + 20.000.000 + 12.000.000 + 7.200.000 + 4.320.000 = 43.520.000 2.592.000

Keterangan: Akumulasi penyusutan adalah jumlah total penyusutan sejak tahun pertama pembelian sampai batas periode (tahun) tertentu. 

Jadi, biaya penyusutan mesin produksi tersebut yakni

  • Rp20.000.000 (tahun pertama)
  • Rp12.000.000 (tahun kedua)
  • Rp7.200.000 (tahun ketiga)
  • Rp4.320.000 (tahun keempat)
  • Rp2.592.000 (tahun kelima)

4. Contoh Penyusutan dengan Metode Hasil Produksi

Perusahaan A telah melakukan pembelian mesin produksi seharga Rp50 juta dan memiliki masa operasional selama 5 tahun. Selama 5 tahun tersebut, pemilik perusahaan A juga menyatakan bahwa kapasitas produksi telah dilakukan sebanyak 100 ribu kali. Adapun data produksi per tahunnya yakni,

  • 25.000 (tahun pertama)
  • 17.000 (tahun kedua)
  • 15.000 (tahun ketiga)
  • 21.000 (tahun keempat)
  • 22.000 (tahun kelima)

Jika nilai residunya sebesar Rp5 juta, bagaimana cara menghitung biaya penyusutan nya?

Diketahui:

  • Harga perolehan : Rp50.000.000
  • Umur ekonomis : 5 tahun
  • Nilai residu : Rp5.000.000
  • Total produksi usia ekonomis : 100.000

Jawaban :

Biaya penyusutan = (jumlah produksi / total produksi usia ekonomis) × (harga perolehan aset – nilai residu)

= (jumlah produksi per tahun / 100.000) × 45.000.000

= %produksi × 45.000.000

Tahun ke- %Produksi Biaya penyusutan (Rp)
1 25.000/100.000 = 0,25 11.250.000
2 17.000/100.000 = 0,17 7.650.000
3 15.000/100.000 = 0,15 6.750.000
4 21.000/100.000 = 0,21 9.450.000
5 22.000/100.000 = 0,22 9.900.000

 

Jadi, biaya penyusutan mesin produksi tersebut yakni

  • Rp11.250.000 (tahun pertama)
  • Rp7.650.000 (tahun kedua)
  • Rp6.750.000 (tahun ketiga)
  • Rp9.450.000 (tahun keempat)
  • Rp9.900.000 ((tahun kelima)

Baca juga: Peluang Usaha Reseller Skincare Scarlett, Modal dan Tips Jitu


Kesimpulan  

Biaya depresiasi adalah proses perhitungan atau pencatatan laporan keuangan yang berhubungan dengan penurunan nilai dari suatu aset tetap (aktiva tetap). Tujuan dari perhitungan tersebut adalah untuk menyesuaikan biaya aset produktif dengan pendapatan bisnis yang diperoleh dari penggunaan aset tersebut.

Kamu juga dapat melakukan cara menghitung biaya penyusutan dengan berbagai metode untuk mewujudkan tujuan tersebut. Setelah membaca artikel ini, harapannya pembaca dapat menyusun laporan keuangan bisnis secara tepat, cermat, dan akurat.


 

Kalkulator Simulasi Pinjaman
Ketahui maksimum pinjaman dan cicilan per bulan
+62
Estimasi jumlah maksimum pinjaman

Rp

Estimasi cicilan bulanan
  • Tenor 6 bulan: Rp
  • Tenor 12 bulan: Rp
  • Tenor 24 bulan: Rp

Install aplikasi KoinWorks dan mulai ajukan pinjaman di KoinBisnis!

Ajukan Pinjaman Sekarang

Cek SKOR Kredit

Klik Gambar Dibawah!

Artikel Terpopuler

usaha bengkel mobil

Tertarik Usaha Bengkel Mobil? Ini Estimasi Modal dan Tips Suksesnya

Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal dengan tingginya jumlah pengguna mobil. Hal ini pun terlihat dari padatnya ruas jalan di kota-kota besar—yang dipenuhi oleh...
bisnis sambal kemasan

Alasan Untuk Segera Memulai Bisnis Sambal Kemasan

Alasan Untuk Segera Memulai Bisnis Sambal Kemasan - Sambal masih menjadi primadona yang identik dengan kebanyakan santapan khas Indonesia. Rasanya yang pedas dan lezat menambah...
usaha-barbershop

Tips Sukses Memulai Usaha Barbershop

Tips Sukses Memulai Usaha Barbershop - Ingin memulai bisnis barbershop namun bingung mulai dari mana? Usaha barbershop (pangkas rambut) memang berkembang cukup pesat terutama...
cara memilih supplier usaha kuliner

7 Tips Mencari Supplier yang Tepat Untuk Usaha Kuliner Kamu

Peluang usaha kuliner semakin bersinar di tahun 2021. Meski di tengah pandemi corona, usaha kuliner tidak terlalu terkena dampak ekonomi yang menurun. Sebaliknya, justru semakin banyak keuntungan bisnis yang...
foundation untuk kulit kering

5 Rekomendasi Foundation Lokal Untuk Kulit Kering

5 Rekomendasi Foundation Lokal Untuk Kulit Kering - Bicara soal foundation untuk kulit kering, brand lokal sudah bisa menjadi rekomendasi. Terlebih gaya dewy look yang...

Artikel Terkait